Indonesia Bangun Dua Kapal Selam Scorpene di Bawah Special Plan
Special Plan – Sebagai bagian dari Special Plan, Indonesia melanjutkan pengembangan dua kapal selam Scorpene yang direncanakan rampung pada 2032 dan 2033. Proyek ini menjadi prioritas nasional dalam meningkatkan kapasitas pertahanan laut, dan PT PAL Indonesia, sebagai perusahaan penguasaan teknologi, berupaya mempercepat proses produksi guna memenuhi target tersebut.
Langkah Strategis dalam Pemotongan Baja dan Kolaborasi Teknis
Pada Juli 2026, PT PAL Indonesia dan Naval Group Prancis secara resmi memulai pemotongan baja pertama untuk dua kapal selam Scorpene, lebih awal dari jadwal awal yang ditetapkan September 2026. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat dalam mewujudkan Special Plan yang mengharuskan integrasi teknologi canggih dari Prancis ke dalam industri lokal. Proses konstruksi ini dilakukan di bawah pengawasan ketat, dengan mengutamakan kualitas bahan dan teknik produksi.
Diana Rosa, Direktur Produksi PT PAL Indonesia, menjelaskan bahwa percepatan produksi didorong oleh selesainya tahap kualifikasi teknis yang telah dilakukan bersama tim Naval Group. Tahap ini mencakup pemeriksaan menyeluruh terhadap sumber daya manusia, metode manufaktur, fasilitas produksi, serta sistem kontrol kualitas. “Kita telah menyelesaikan semua verifikasi, sehingga proses selanjutnya bisa dijalankan secara optimal,” ungkap Diana, seperti dikutip dari Antara.
Sebagai bagian dari Special Plan, pengembangan dua kapal selam Scorpene juga mencakup peningkatan kompetensi insinyur Indonesia. PT PAL mengirimkan sekitar ratusan profesional ke Prancis untuk mengikuti pelatihan intensif di bidang pengelasan, konstruksi, sistem mekanikal, elektrikal, serta pengendalian kualitas. Ini menjadi investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem manufaktur tinggi teknologi yang kompetitif secara global.
Proses Produksi yang Disiplin dan Teknologi Tinggi
Pemotongan baja menjadi titik awal dari konstruksi fisik kapal selam Scorpene, yang membutuhkan ketelitian ekstrem. Diana Rosa menekankan bahwa kesuksesan Special Plan bergantung pada ketepatan mutlak dalam setiap tahap produksi. “Spesifikasi kapal selam memiliki risiko tinggi dengan toleransi kesalahan nol. Struktur yang kompleks memerlukan material fleksibel, sehingga tidak ada ruang untuk eksperimen,” pungkasnya.
Kapal selam Scorpene yang dikembangkan PT PAL memiliki baterai litium yang memungkinkan operasi jangka panjang di bawah permukaan laut. Teknologi ini dianggap mampu meningkatkan kemampuan Indonesia dalam menjaga keamanan laut, terutama di wilayah strategis seperti Selat Malaka. Dengan Special Plan, harapan besar ditempatkan pada kemampuan industri dalam menghasilkan produk kelas dunia secara mandiri.
Naval Group mengapresiasi kinerja para pengelas Indonesia yang mampu mencapai standar zero weld defect, menunjukkan kualitas produksi yang memadai. Proses ini tidak hanya mempercepat penyelesaian kapal selam, tetapi juga memperkuat sinergi antara keahlian lokal dan teknologi asing. “Kami puas dengan kemajuan yang tercapai, dan optimis bahwa Special Plan akan memberikan hasil yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan,” kata Diana.
Dengan Special Plan sebagai kerangka kerja, PT PAL Indonesia bertekad menjadi pusat produksi kapal selam kelas dunia. Proyek ini diperkirakan akan menyerap ribuan tenaga kerja, meningkatkan nilai tambah industri, dan mengurangi ketergantungan pada impor. Pemerintah pun menilai bahwa percepatan produksi ini selaras dengan visi negara untuk menjadi kekuatan maritim yang mandiri dan berdaya saing.
