Latest Program Ojol: Mitra Desak Penjelasan Komisi 8 Persen
Kebijakan Baru Diberlakukan
Latest Program – Program terbaru dari platform ojek online telah resmi diberlakukan sejak 1 Juli 2026. Skema bagi hasil baru ini mengatur bahwa mitra pengemudi akan menerima 92 persen dari tarif dasar perjalanan, sementara 8 persen diambil sebagai komisi oleh aplikasi. Meski kebijakan ini diharapkan memberi manfaat bagi mitra, banyak kalangan menganggap penjelasan mengenai cara perhitungan komisi perlu lebih jelas. “Latest Program” ini menjadi perbincangan hangat di berbagai forum online maupun media sosial, terutama karena dampaknya terhadap pendapatan mitra yang turun drastis.
Skema bagi hasil yang diubah ini memicu kebingungan di kalangan pengemudi ojek online. Banyak mitra mengeluhkan bahwa penjelasan mengenai pengambilan komisi 8 persen tidak disampaikan secara detail, sehingga sulit memahami perubahan tarif yang terjadi. Sebagai contoh, beberapa mitra menilai bahwa perhitungan komisi justru menyebabkan pengurangan pendapatan mereka hingga 15 persen dibandingkan sebelumnya. Kebijakan ini juga dianggap sebagai bagian dari “Latest Program” yang bertujuan meningkatkan pengelolaan finansial perusahaan, tetapi di sisi lain mengurangi keuntungan mitra.
Penjelasan dari Cucun Syamsurijal
Cucun Ahmad Syamsurijal, Wakil Ketua DPR, mengkritik kebijakan ini karena dinilai kurang transparan. “Latest Program” yang diterapkan oleh platform ojek online, menurutnya, perlu disertai penjelasan yang lebih mendetail agar mitra pengemudi tidak merasa dirugikan. “Kita sudah men-declare apa yang menjadi komitmen pemerintah, Pak Presiden, termasuk para pengusaha dari aplikatornya, bahwa per 1 Juli sudah terlaksana delapan persen potongan untuk aplikator dan 92 persen yang didapatkan para pengemudi,” tutur Cucun dalam pernyataannya.
Lebih lanjut, Cucun menyoroti bahwa penurunan tarif yang diakibatkan oleh “Latest Program” ini berdampak pada pendapatan mitra. Ia menjelaskan bahwa meskipun masyarakat akan merasakan manfaat dari penawaran tarif yang lebih murah, mitra pengemudi tetap memerlukan kejelasan tentang bagaimana potongan 8 persen dihitung. “Penjelasan yang lebih jelas akan membantu mitra memahami pengaruh kebijakan ini terhadap usaha mereka,” tambahnya.
Implementasi Kebijakan dan Proses Penyesuaian
Penerapan “Latest Program” ini tidak hanya melibatkan pemerintah tetapi juga berbagai pihak terkait, termasuk perusahaan aplikasi. Kementerian Perhubungan memberikan panduan teknis mengenai skema pengambilan komisi, sementara Komisi V DPR RI terus memantau agar kebijakan berjalan sesuai dengan tujuan. Namun, beberapa mitra mengakui bahwa proses penyesuaian ini memerlukan waktu lebih lama.
Di platform Grab, misalnya, para pengemudi mengeluhkan bahwa perhitungan komisi tidak langsung terlihat pada aplikasi mereka. “Seringkali, pengambilan komisi 8 persen baru tercatat di hari berikutnya setelah transaksi selesai,” ungkap Alex, seorang mitra pengemudi. Kebingungan ini semakin memperparah ketidakpuasan mitra terhadap “Latest Program.” Selain itu, ada laporan bahwa sebagian mitra mengalami penurunan penghasilan hingga 20 persen dalam sepekan setelah kebijakan ini berlaku.
Respons dari Mitra dan Konsumen
Respons terhadap “Latest Program” ini terbagi menjadi dua kelompok. Sebagian mitra menganggap kebijakan ini sebagai langkah yang menguntungkan perusahaan, tetapi mengurangi penghasilan mereka. Sementara itu, konsumen secara umum menyambut baik penurunan tarif, terutama untuk penggunaan ojek online yang lebih sering. Namun, ada juga yang mempertanyakan apakah kebijakan ini akan berdampak jangka panjang terhadap kualitas layanan.
Sejumlah mitra mengaku perlu penyesuaian dalam berbagai aspek kehidupan mereka, seperti pengelolaan waktu dan pendapatan. “Latest Program” ini menimbulkan diskusi panjang di berbagai forum, dengan sebagian mengkritik kebijakan tersebut sementara lainnya bersikap setuju. “Kebijakan ini bagus asalkan ada penjelasan yang jelas,” kata salah satu mitra. Namun, masih ada yang menilai bahwa “Latest Program” perlu diulas kembali untuk menyesuaikan dengan kondisi ekonomi mitra pengemudi.
Langkah untuk Memperbaiki Kebijakan
Sebagai respons atas keluhan mitra, pihak perusahaan aplikasi mulai memperjelas mekanisme pengambilan komisi. Beberapa mitra mengungkapkan bahwa pihak platform menambahkan fitur penjelasan mengenai bagaimana tarif dasar dibagi antara pengemudi dan aplikasi. Namun, beberapa di antaranya masih merasa bahwa sistem ini belum cukup transparan.
Adaptasi terhadap “Latest Program” ini menurut Cucun Syamsurijal juga perlu melibatkan perusahaan-perusahaan ride-hailing secara aktif. “Para pengusaha aplikasi harus bersikap lebih terbuka dalam menjelaskan bagaimana “Latest Program” ini diimplementasikan,” jelasnya. Selain itu, ada rencana untuk melakukan evaluasi terhadap skema ini dalam beberapa bulan mendatang, agar bisa disesuaikan dengan realitas lapangan. “Latest Program” ini diharapkan menjadi dasar bagi kebijakan yang lebih baik di masa depan.
