Orang Tua Diajak Aktif Mendampingi Perkembangan Anak di Rumah Anak SIGAP
Nusautama.com – Peran keluarga, terutama orang tua, menjadi bagian penting dalam kegiatan Rumah Anak SIGAP yang diinisiasi Tanoto Foundation di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Program ini tidak hanya menghadirkan aktivitas stimulasi bagi anak, melainkan juga membuka ruang belajar bagi orang tua agar mampu mendampingi proses tumbuh kembang anak secara lebih terarah.
Pendampingan tersebut dilakukan melalui materi pengasuhan, diskusi, serta kegiatan evaluasi yang disesuaikan dengan kelompok usia anak. Dengan pendekatan ini, pengetahuan yang diperoleh selama kelas diharapkan dapat diteruskan dalam rutinitas pengasuhan di rumah.
Pada Kamis (17/9/2026), Fasilitator Kader & Stimulasi Individu Rumah Anak SIGAP, Luly Triana Hapsari, memberikan edukasi kepada peserta. Kegiatan yang ia dampingi pada hari itu difokuskan untuk orang tua dengan anak berusia 12 hingga 24 bulan.
Kelas Pengasuhan untuk Kelompok Usia 12–24 Bulan
Materi di Rumah Anak SIGAP dirancang mengikuti tahap usia anak. Pengelompokan ini membantu orang tua memahami bahwa kebutuhan stimulasi pada setiap masa pertumbuhan dapat berbeda, sehingga cara mendampingi anak juga perlu disesuaikan.
Untuk kelompok usia 12–24 bulan, kegiatan yang berlangsung berupa kelas pengasuhan tematik. Fokus pembelajaran diberikan kepada orang tua, sementara hasil pembelajaran turut dievaluasi melalui kuis di aplikasi Rumah Anak SIGAP.
“Kebetulan yang saya pegang hari ini itu usia 12-24 bulan. Dan kegiatan hari ini itu kelas pengasuhan tematik, yang mana itu orang tua yang mendapatkan materinya. Nah, setelah mendapat materinya, orang tua nanti mengisi kuis yang ada di aplikasi dari Rumah Anak Sigap ,” ujar Luly.
Penggunaan kuis memberi kesempatan bagi peserta untuk meninjau kembali pemahaman mereka atas materi yang telah dibahas. Bagi orang tua, proses ini dapat menjadi pengingat tentang hal-hal yang perlu diperhatikan saat membersamai anak dalam kegiatan sehari-hari.
Kegiatan pengasuhan tidak diposisikan sebagai penyampaian informasi satu arah. Orang tua juga didorong menyampaikan pengalaman, pertanyaan, maupun situasi yang mereka hadapi ketika merawat anak. Pola interaksi semacam ini membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan kebutuhan peserta.
Diskusi Membuka Ruang Berbagi Pengalaman
Luly menekankan bahwa keterlibatan peserta selama kelas sangat diperlukan. Saat orang tua dilibatkan untuk menjawab pertanyaan dan berbagi cerita, fasilitator dapat melihat sejauh mana materi dipahami sekaligus mengetahui persoalan yang mungkin muncul dalam praktik pengasuhan.
“Selain kita menyampaikan materi mengenai tema hari ini, kita juga harus membuat orang tua ikut aktif juga, ikut kreatif juga. Jadi selain kitanya juga menyampaikan, kita juga tanya nih ke orang tua yang materi kita sampaikan sudah paham atau belum,” katanya.
Diskusi juga memungkinkan para orang tua saling bertukar sudut pandang. Pengalaman satu keluarga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi keluarga lain, tanpa menghilangkan kebutuhan masing-masing anak yang tetap perlu diperhatikan secara personal.
“Terus dari ibaratnya yang mereka alami, itu kan bisa saling sharing. Maksudnya ibaratnya dikasih aturan yang mana SOP-nya itu juga, selain kelas nggak monoton aja, orang tua juga disuruh aktif juga. Jadi adalah diskusi, adalah tanya jawab gitu,” lanjut Luly.
Keaktifan dalam kelas menjadi penting karena pengasuhan berlangsung setiap hari, bukan hanya ketika anak mengikuti kegiatan stimulasi. Orang tua yang memahami tujuan dari sebuah aktivitas dapat lebih mudah menerapkannya dalam suasana rumah yang akrab dan sesuai dengan kebiasaan keluarga.
Pengetahuan Diharapkan Berlanjut di Rumah
Materi yang diterima peserta diharapkan tidak berhenti setelah sesi kelas selesai. Orang tua dapat menggunakan pengetahuan tersebut saat bermain, berkomunikasi, atau mendampingi anak menjalani rutinitas hariannya di rumah.
Selain diterapkan untuk keluarga sendiri, informasi pengasuhan yang diperoleh juga dapat dibagikan kepada lingkungan sekitar. Penyebaran pengetahuan yang tepat dapat membantu lebih banyak keluarga memahami pentingnya memberi perhatian pada proses perkembangan anak sejak dini.
Rumah Anak SIGAP turut memberi pemahaman mengenai deteksi awal tumbuh kembang. Hal ini menjadi bagian yang relevan bagi orang tua karena perubahan atau kebutuhan anak dapat diamati dari aktivitas sehari-hari, termasuk saat anak bermain, bergerak, berkomunikasi, dan berinteraksi.
Apabila terlihat adanya keterlambatan atau hal yang perlu mendapat perhatian dalam perkembangan anak, orang tua dapat lebih cepat mengambil langkah yang diperlukan. Pemahaman awal tidak dimaksudkan untuk membuat keluarga cemas, melainkan membantu mereka lebih peka terhadap kebutuhan pendampingan anak.
Melalui kombinasi stimulasi anak, kelas pengasuhan, kuis, dan diskusi, Rumah Anak SIGAP berupaya menempatkan orang tua sebagai mitra utama dalam proses tumbuh kembang. Anak memperoleh kesempatan belajar melalui kegiatan yang sesuai usianya, sementara orang tua mendapatkan bekal untuk melanjutkan pendampingan secara konsisten di lingkungan keluarga.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Begini Cara Rumah Anak SIGAP Libatkan?
Begini Cara Rumah Anak SIGAP Libatkan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Begini Cara Rumah Anak SIGAP Libatkan matter?
Begini Cara Rumah Anak SIGAP Libatkan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
