NusaUtama
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kunjungan ke Bali, Megawati Soroti Parahnya Abrasi di Pantai Kuta akibat Perubahan Iklim

Published Oktober 11, 2026 · Updated Oktober 11, 2026 · By Charles Miller - nusautama.com

Foto : Charles Miller - nusautama.com

Kunjungan ke Bali Megawati Soroti Abrasi Pantai Kuta

Nusautama.com – Kunjungan ke Bali Megawati soroti kondisi abrasi yang kian mengkhawatirkan di Pantai Kuta, Badung. Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menilai pengikisan garis pantai tersebut berkaitan dengan ancaman perubahan iklim, cuaca ekstrem, dan gelombang laut yang terus menekan kawasan pesisir Bali.

Peninjauan itu menjadi pengingat bahwa Pantai Kuta tidak hanya penting sebagai ruang publik dan kawasan ekonomi, tetapi juga sebagai wilayah pesisir yang rentan. Jika abrasi terus berlangsung, perubahan garis pantai dapat memengaruhi lingkungan, aktivitas masyarakat, serta keberlanjutan kawasan di sekitarnya.

Megawati hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta.

“Ingat, ancaman dari global warming, pencairan es di kutub kian terasa bagi negara kepulauan seperti Indonesia.”

Perubahan Iklim Memperbesar Risiko Abrasi

Kunjungan ke Bali Megawati soroti pentingnya memahami abrasi sebagai persoalan yang tidak berdiri sendiri. Abrasi merupakan pengikisan daratan di tepi laut akibat gelombang, arus, serta pasang surut. Ketika tekanan gelombang kuat terjadi berulang kali, garis pantai dapat mundur dan area pesisir menjadi lebih mudah terdampak.

Perubahan iklim dapat memperberat tantangan tersebut melalui pola cuaca yang berubah dan kondisi laut yang semakin sulit diprediksi. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, dampaknya perlu ditangani dengan serius karena banyak permukiman, kegiatan ekonomi, dan ekosistem berada dekat dengan pesisir.

Megawati menegaskan bahwa isu pemanasan global telah lama dibicarakan. Karena itu, perhatian terhadap dampaknya tidak seharusnya berhenti pada wacana. Generasi saat ini perlu memahami risiko yang ada dan menyiapkan langkah penanganan yang terukur, berkelanjutan, serta sesuai kebutuhan setiap daerah.

Penanganan Pantai Kuta membutuhkan pemantauan kondisi lapangan secara konsisten. Kajian ilmiah dapat membantu membaca perubahan garis pantai, kekuatan gelombang, dan kerentanan kawasan. Hasilnya dapat menjadi dasar untuk menentukan kebijakan perlindungan pesisir yang lebih tepat.

Pendekatan Negara Kepulauan

Dalam arahannya, Megawati mengingatkan bahwa Indonesia tidak dapat melihat persoalan pesisir dengan cara pandang negara yang didominasi daratan kontinental. Karakter ribuan pulau di Indonesia menuntut kebijakan yang mempertimbangkan kondisi laut, pantai, lingkungan, dan kehidupan masyarakat setempat.

“Orang-orang pintar di lembaga, kementerian, harus memahami bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, jadi jangan berpikir seperti menangani benua atau daratan kontinental.”

Kunjungan ke Bali Megawati soroti perlunya solusi yang tidak bersifat seragam. Setiap pantai memiliki karakter berbeda, mulai dari bentuk garis pantai, kekuatan arus dan gelombang, hingga aktivitas warga di sekitarnya. Kebijakan yang diterapkan perlu disusun berdasarkan kondisi nyata agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Upaya perlindungan pantai juga harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan penanganan fisik dan kelestarian alam. Pengelolaan pesisir tidak hanya berbicara tentang mengurangi risiko pengikisan, tetapi juga menjaga lingkungan serta ruang hidup masyarakat yang bergantung pada kawasan pantai.

Riset dan Kearifan Lokal Perlu Berjalan Bersama

Megawati mendorong kolaborasi antara lembaga, kementerian, pemerintah daerah, peneliti, dan masyarakat dalam mengatasi persoalan abrasi. Kerja sama dibutuhkan agar riset, perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Jadi kerjanya jangan sepotong-sepotong.”

Di Bali, nilai Tri Hita Karana juga dinilai relevan dalam upaya menjaga pesisir. Filosofi tersebut mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual. Dalam konteks Pantai Kuta, nilai ini dapat menjadi dasar untuk memastikan perlindungan lingkungan tetap sejalan dengan kehidupan masyarakat Bali.

Perpaduan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal diharapkan menghasilkan langkah yang lebih sesuai dengan kondisi pesisir. Riset dapat memberi gambaran tentang perubahan lingkungan, sedangkan pemahaman masyarakat lokal membantu memastikan kebijakan yang diterapkan tetap relevan dan berkelanjutan.

FAQ Abrasi Pantai Kuta

Apa yang menjadi perhatian Megawati di Pantai Kuta?

Megawati menyoroti parahnya abrasi di Pantai Kuta serta kaitannya dengan perubahan iklim, cuaca ekstrem, dan gelombang laut yang kuat.

Mengapa abrasi penting ditangani secara terpadu?

Abrasi memengaruhi garis pantai, lingkungan, aktivitas warga, dan kawasan pesisir. Penanganannya membutuhkan kerja sama pemerintah, peneliti, lembaga terkait, serta masyarakat agar solusi tidak dilakukan secara terpisah.

Bagaimana masyarakat dapat mendukung perlindungan pesisir?

Masyarakat dapat menjaga kebersihan pantai, mendukung pelestarian lingkungan pesisir, serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan pihak terkait dalam menjaga kawasan pantai.

Perhatian terhadap abrasi Pantai Kuta menegaskan bahwa perlindungan pesisir merupakan kebutuhan mendesak. Respons yang berbasis riset, melibatkan banyak pihak, dan menghormati kearifan lokal menjadi bagian penting untuk menghadapi dampak perubahan iklim di Indonesia.

Related Reading