Baru 40 % UMKM Indonesia Miliki Kesehatan Finansial Memadai, Perlu Ekosistem yang Lebih Kuat
Baru 40 UMKM Indonesia Miliki Kesehatan Finansial Memadai
Nusautama.com – Baru 40 UMKM Indonesia miliki kesehatan finansial yang memadai. Temuan riset Amartha terhadap lebih dari 1.800 pelaku UMKM di berbagai wilayah Indonesia ini menunjukkan masih besarnya tantangan dalam membangun ketahanan usaha dari sisi keuangan.
Kesehatan finansial bukan sekadar soal memiliki akses terhadap layanan keuangan atau pembiayaan. Kondisi ini juga mencakup kemampuan memenuhi kebutuhan rutin, mengelola pendapatan yang berubah-ubah, menghadapi pengeluaran mendadak, serta menjaga usaha tetap berjalan ketika terjadi tekanan.
Artinya, sebagian besar pelaku usaha kecil masih membutuhkan dukungan agar mampu memperkuat fondasi keuangannya. Ketahanan tersebut penting karena operasional UMKM sangat bergantung pada arus kas harian dan kemampuan mengambil keputusan di tengah perubahan kondisi pasar.
Akses Keuangan Perlu Diikuti Ketahanan Usaha
Persoalan kesehatan finansial UMKM dibahas dalam forum Indonesian Coalition for Financial Health: The First Step Forward. Head of Secretariat Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH) sekaligus Chief Compliance & Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, menilai diperlukan langkah yang menyeluruh untuk menjawab tantangan tersebut.
“Saat ini hanya empat dari sepuluh UMKM di Indonesia telah mencapai kondisi kesehatan finansial yang memadai. Walaupun akses keuangan dan kepercayaan diri sudah bagus, namun kemampuan UMKM bertahan terhadap goncangan dan memiliki kemampuan bertumbuh masih rendah. Dari bukti empiris ini, intervensi dan kebijakan yang lebih terorkestrasi diperlukan untuk memperkuat ekosistem secara keseluruhan,” kata Aria dalam surelnya, Senin (28/9).
Temuan bahwa baru 40 UMKM Indonesia miliki kondisi finansial memadai memperlihatkan bahwa perluasan akses keuangan saja belum cukup. Pelaku usaha juga perlu memiliki kemampuan mengatur arus kas, membedakan kebutuhan bisnis dan rumah tangga, menyusun prioritas pengeluaran, serta menyiapkan langkah saat pendapatan menurun.
Ketika pemasukan tidak stabil atau muncul kebutuhan mendesak, ketahanan finansial dapat menentukan keberlangsungan usaha. UMKM yang mampu menyesuaikan pengeluaran dan menjaga modal kerja memiliki peluang lebih besar untuk bertahan sekaligus tumbuh.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk UMKM
Riset Amartha menjadi salah satu dasar penguatan agenda kesehatan finansial melalui ICFH. Koalisi ini dibentuk sebagai ruang kerja sama lintas sektor untuk memperbaiki kondisi finansial masyarakat akar rumput, termasuk pemilik usaha mikro, kecil, dan menengah.
Pada pertemuan perdananya, ICFH melibatkan 15 institusi dari berbagai sektor. Keterlibatan banyak pihak diharapkan dapat membangun pemahaman yang sama mengenai kebutuhan UMKM dan menghasilkan intervensi yang lebih terarah.
Ekosistem yang kuat tidak berhenti pada penyediaan kredit atau produk keuangan. Pelaku UMKM juga membutuhkan pendampingan, edukasi pengelolaan keuangan, akses pasar, serta dukungan untuk menghadapi perubahan ekonomi. Pendekatan yang saling terhubung dapat membantu kebijakan dan program tidak berjalan sendiri-sendiri.
Contoh perluasan pasar terlihat pada Batik Kidang Emas dari Rembang. Pelaku usaha tersebut memasarkan produk melalui siaran langsung TikTok dan platform Shopee ketika mengikuti Pameran UMKM Unggulan Jawa Tengah di kompleks Kantor Gubernur dan DPRD Jawa Tengah, Semarang, Jumat (21/8/2026).
Kanal digital membuka kesempatan bagi UMKM untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Namun, peningkatan penjualan tetap perlu diimbangi dengan pencatatan transaksi, pengelolaan persediaan, dan perencanaan keuangan agar pertumbuhan usaha dapat berlangsung berkelanjutan.
Perempuan Pelaku UMKM Juga Perlu Dukungan Tepat
Kesehatan finansial menjadi perhatian penting bagi perempuan pelaku UMKM. Women’s World Banking (WWB) menilai peningkatan akses pembiayaan belum otomatis menghapus hambatan struktural yang dihadapi perempuan pengusaha dalam membangun ketahanan finansial.
Sr. Research Lead Southeast Asia Women’s World Banking, Agnes Salyanty, menyampaikan bahwa perempuan UMKM di Indonesia memiliki pola pengelolaan keuangan yang sangat disiplin. Temuan ini menunjukkan bahwa program penguatan finansial perlu disusun sesuai pengalaman dan kebutuhan nyata perempuan pelaku usaha.
Dengan baru 40 UMKM Indonesia miliki kesehatan finansial yang memadai, penguatan ekosistem perlu menjadi perhatian bersama. Dukungan yang terkoordinasi dapat membantu pelaku usaha tidak hanya bertahan menghadapi guncangan, tetapi juga memiliki ruang untuk berkembang.
FAQ Kesehatan Finansial UMKM
Apa yang dimaksud kesehatan finansial UMKM?
Kesehatan finansial UMKM adalah kemampuan usaha untuk memenuhi kebutuhan rutin, mengelola pendapatan dan pengeluaran, menghadapi kondisi mendadak, serta mempertahankan keberlangsungan bisnis.
Mengapa akses pembiayaan saja belum cukup?
Pembiayaan dapat membantu modal usaha, tetapi pelaku UMKM tetap perlu mengelola arus kas, menyusun prioritas belanja, dan menyiapkan cadangan agar usaha mampu menghadapi perubahan pendapatan atau biaya mendadak.
Langkah praktis apa yang dapat dilakukan pelaku UMKM?
Pelaku usaha dapat mulai dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin, memisahkan uang pribadi dari uang usaha, mengatur kebutuhan modal kerja, serta mengevaluasi penjualan dan biaya secara berkala.