NusaUtama
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

FAO: Lebih dari 1,2 Juta Warga Palestina Alami Krisis Pangan Akut

Published Oktober 8, 2026 · Updated Oktober 8, 2026 · By Christopher Wilson - nusautama.com

Foto : Christopher Wilson - nusautama.com

FAO Soroti Krisis Pangan Akut yang Dialami Warga Palestina

Nusautama.com – FAO menyatakan lebih dari 1,2 juta warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat menghadapi kerawanan pangan akut pada periode April hingga Juni 2026. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa itu memperingatkan bahwa situasi pangan diperkirakan memburuk pada paruh kedua tahun ini.

Pernyataan tersebut disampaikan FAO pada Rabu (7/10) dengan merujuk pada pemantauan sistem Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu atau Integrated Food Security Phase Classification (IPC). Data itu menggambarkan besarnya tekanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Palestina terkait akses terhadap pangan.

Menurut FAO, lebih dari 1,2 juta orang di Gaza dan Tepi Barat berada pada tingkat kerawanan pangan akut kategori krisis atau lebih berat. Kondisi ini mencakup penduduk yang menghadapi kesulitan serius untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan membutuhkan dukungan agar situasi tidak semakin parah.

“Di Gaza dan Tepi Barat, lebih dari 1,2 juta orang menghadapi tingkat kerawanan pangan akut pada kategori Krisis atau lebih parah antara April dan Juni 2026. Kondisi tersebut diperkirakan semakin memburuk pada semester kedua tahun ini,” kata FAO.

Kebutuhan Bantuan Pertanian dan Pemulihan Mata Pencaharian

Untuk menghadapi situasi tersebut, FAO meminta pendanaan sebesar 140,9 juta dolar AS, atau sekitar Rp2,52 triliun, pada 2027. Dana itu ditujukan bagi bantuan pertanian darurat sekaligus upaya pemulihan di Gaza dan Tepi Barat.

Bantuan pertanian dipandang penting karena bukan hanya berkaitan dengan pasokan pangan dalam jangka pendek. Dukungan tersebut juga diperlukan agar masyarakat terdampak dapat kembali menjalankan mata pencaharian serta memulihkan kemampuan mereka menghasilkan pangan.

FAO menilai pemulihan produksi pangan menjadi salah satu kebutuhan mendesak di tengah krisis. Ketika akses terhadap bahan pangan terganggu, bantuan yang mendukung pertanian dan mata pencaharian dapat membantu keluarga terdampak memenuhi kebutuhan dasar mereka secara lebih berkelanjutan.

Permintaan dana tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kerawanan pangan tidak cukup hanya melalui bantuan sementara. Pemulihan perlu dilakukan dengan memperhatikan sumber penghidupan masyarakat, termasuk kemampuan untuk kembali terlibat dalam kegiatan produksi pangan.

Perbandingan dengan Kondisi Gaza pada 2025

Situasi kerawanan pangan di Palestina juga tercermin dalam data sebelumnya di Jalur Gaza. Pada periode 1 April hingga 10 Mei 2025, sebanyak 1,95 juta orang atau 93 persen penduduk Gaza mengalami kerawanan pangan akut pada Tahap 3 atau lebih tinggi.

Dari jumlah tersebut, 925.000 orang berada dalam keadaan darurat atau Tahap 4. Sementara itu, 244.000 orang tercatat berada dalam kondisi bencana atau Tahap 5. Angka-angka tersebut menunjukkan tingginya tingkat kebutuhan bantuan pangan di Gaza pada periode tersebut.

Data 2025 itu menjadi gambaran penting mengenai tingkat keparahan masalah pangan yang pernah terjadi. Dalam pemantauan terbaru, FAO kembali menekankan perlunya perhatian terhadap warga di Gaza dan Tepi Barat yang berada dalam kategori krisis atau kondisi yang lebih berat.

Memahami Kategori Kerawanan Pangan Menurut IPC

IPC merupakan sistem yang diakui secara internasional untuk mengidentifikasi tingkat kerawanan pangan akut. Sistem ini membagi kondisi pangan ke dalam lima tahap, mulai dari Tahap 1 atau minimal hingga Tahap 5 yang disebut bencana besar.

Tahap 3 dalam klasifikasi IPC berarti krisis. Pada tahap ini, rumah tangga menghadapi kesulitan besar dalam memenuhi kebutuhan pangan dan memerlukan langkah penanganan. Tahap 4 berarti keadaan darurat, sedangkan Tahap 5 menunjukkan kondisi bencana besar.

Penyebutan kategori “krisis atau lebih parah” oleh FAO berarti situasi yang dipantau telah mencapai Tahap 3, Tahap 4, atau Tahap 5. Klasifikasi ini digunakan untuk membantu menggambarkan tingkat kebutuhan dan menjadi dasar perencanaan respons kemanusiaan.

FAQ tentang Pernyataan FAO soal Krisis Pangan Palestina

Apa yang disampaikan FAO mengenai Gaza dan Tepi Barat?

FAO menyebut lebih dari 1,2 juta warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat mengalami kerawanan pangan akut kategori krisis atau lebih parah selama April hingga Juni 2026. Organisasi itu juga memperkirakan kondisi dapat memburuk pada semester kedua tahun ini.

Berapa dana yang diminta FAO untuk 2027?

FAO meminta dana 140,9 juta dolar AS atau sekitar Rp2,52 triliun. Pendanaan tersebut ditujukan untuk bantuan pertanian darurat dan pemulihan di wilayah terdampak.

Apa arti Tahap 3 dalam sistem IPC?

Tahap 3 berarti krisis. Dalam sistem IPC, Tahap 3, Tahap 4, dan Tahap 5 masing-masing menggambarkan krisis, keadaan darurat, dan bencana besar.

Mengapa bantuan pertanian diperlukan dalam krisis pangan?

Menurut penjelasan FAO, bantuan pertanian penting untuk mendukung pemulihan produksi pangan dan mata pencaharian masyarakat terdampak. Dukungan ini dibutuhkan bersama upaya bantuan darurat bagi warga yang mengalami kerawanan pangan akut.

Related Reading