𝕏 f WA
Energi

Latest Program: Dampak Kenaikan Harga Pertamax akan Mulai Terasa meski Tak Signifikan, ini Hitungan CORE

Latest Program: Dampak Kenaikan Harga Pertamax akan Mulai Terasa meski Tak Signifikan, ini Hitungan CORE

Dampak Kenaikan Harga Pertamax Akan Mulai Terasa Meski Tak Signifikan, Ini Hitungan dalam Latest Program

Latest Program terkini mengusulkan bahwa penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi, yang diumumkan pada 10 Juni 2026, memiliki dampak terbatas terhadap inflasi. Meski perubahan harga Pertamax ini dianggap tidak signifikan, analisis dari CORE Indonesia menunjukkan bahwa kebijakan ini tetap perlu diperhitungkan dalam pergerakan harga-harga kecil secara nasional.

Analisis Inflasi: Prediksi 0,3-0,4% Berdasarkan Latest Program

Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green yang berlaku sejak 10 Juni 2026 berpotensi memicu kenaikan inflasi sebesar 0,3 hingga 0,4 persen. Prediksi ini didasarkan pada pengamatan terhadap fluktuasi harga BBM non subsidi dan dampaknya terhadap konsumsi masyarakat.

“Kenaikan harga Pertamax ini memang tidak mengubah trend inflasi secara drastis, tetapi dalam konteks Latest Program, kita perlu memperhatikan efek jangka pendek terhadap daya beli masyarakat,” ujarnya dalam wawancara terbaru.

Menurut Faisal, perubahan harga BBM non subsidi kali ini lebih kecil dibandingkan periode 2022, ketika kenaikan harga BBM subsidi sempat mencapai 1 persen. Ia menekankan bahwa inflasi yang muncul dari penyesuaian harga Pertamax adalah bagian dari perspektif makroekonomi yang lebih luas dalam rangkaian Latest Program.

Dalam penjelasan lebih lanjut, Faisal menyebutkan bahwa kenaikan harga Pertamax mencerminkan tekanan ekonomi global, termasuk kenaikan harga minyak dunia yang kembali ke level USD 70 per barel. Kondisi ini menjadi alasan utama penyesuaian harga, sebagaimana dijelaskan dalam framework Latest Program yang mengintegrasikan data pasar dan kebijakan energi.

Proses Penyesuaian Harga BBM Non Subsidi dalam Latest Program

PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green sejak 10 Juni 2026 sebagai bagian dari implementasi Latest Program. Kebijakan ini diambil setelah melalui evaluasi berkala terhadap harga minyak global, serta kontribusi dari pemerintah sebagai otoritas regulator.

“Kita melakukan perhitungan berdasarkan formula harga yang telah ditetapkan dalam Latest Program, sehingga kenaikan ini dipandu oleh data yang akurat dan kebutuhan pasar,” terang Roberth MV Dumatubun, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga.

Proses penyesuaian harga BBM non subsidi ini tidak hanya melibatkan pertimbangan harga minyak dunia, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kelangsungan bisnis perusahaan, kualitas layanan, serta kepastian pasokan energi bagi masyarakat. Dalam konteks Latest Program, kebijakan harga BBM menjadi alat untuk menjaga stabilitas ekonomi sektor energi dan mengurangi beban subsidi.

Dampak kenaikan harga Pertamax juga akan terasa secara langsung pada pengguna kendaraan bermotor. Meski besarnya kenaikan tidak terlalu signifikan, beberapa kelompok konsumen, terutama pengguna mobil dan sepeda motor, mungkin merasakan tekanan kecil terhadap pengeluaran bulanan. Hal ini selaras dengan prinsip Latest Program yang menekankan transparansi dan efisiensi dalam pengelolaan subsidi.

Selain itu, kenaikan harga Pertamax mencerminkan kebijakan penyesuaian harga yang lebih terbuka, sesuai dengan prinsip Latest Program. Faisal mengatakan, penggunaan harga floating pada BBM non subsidi membantu menjaga fleksibilitas harga dalam mengikuti perubahan dinamika pasar global. Meski demikian, kenaikan ini tetap diperkirakan tidak akan mengganggu stabilitas inflasi secara signifikan.

“Latest Program memberikan ruang untuk mengadaptasi harga BBM dengan kondisi pasar, tetapi tetap memastikan dampaknya terukur dan terkontrol,” pungkas Faisal.

Leave a comment πŸ’¬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *