Populasi Rusa di Nara Jepang Mencapai Rekor Tertinggi
Populasi Rusa di Nara Jepang Pecah – Kota Nara, Jepang, kembali menjadi sorotan setelah populasi rusa liar di Taman Nara mencapai angka terbesar sepanjang sejarah. JawaPos.com melaporkan bahwa jumlah rusa yang ditemukan di wilayah tersebut naik signifikan, mencapai 1.687 ekor pada akhir Juni 2020, yang merupakan peningkatan sebesar 222 ekor dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini disebabkan oleh kebiasaan pengunjung memberi makan rusa dengan bahan makanan yang tidak sesuai.
Mengapa Populasi Rusa Meningkat?
Pertumbuhan populasi rusa di Nara telah berlangsung selama beberapa tahun, dengan angka yang terus mengalami peningkatan. Sejak 1953, Yayasan Pelestarian Rusa Nara melakukan penghitungan rutin, dan hasil terbaru menunjukkan bahwa hewan-hewan ini telah melampaui rekor sebelumnya. Peneliti mengatakan bahwa manusia menjadi penyebab utama perubahan ini karena sering kali memberi makan rusa dengan sayuran dan makanan sisa yang bisa mengganggu pola makan alami mereka.
Menurut data dari yayasan, hewan-hewan ini mulai kehilangan kebiasaan berburu dan lebih sering tergantung pada pakan dari pengunjung. Hal ini menyebabkan rusa menghabiskan lebih banyak waktu di area taman dan menjadi lebih rentan melahirkan anak. Dampaknya mulai terasa di luar kawasan wisata, di mana sejumlah rusa dikabarkan masuk ke kebun sayur warga dan merusak tanaman yang siap dipanen.
Penelitian dan Penghitungan Populasi
Penghitungan populasi rusa terbaru dilakukan oleh sekitar 40 petugas selama dua hari, mulai dari Rabu hingga Kamis. Proses ini mencakup pengamatan langsung terhadap rusa yang berada di seluruh wilayah taman. Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah rusa jantan mencapai 411 ekor, betina sebanyak 990, dan anak rusa 286 ekor. Angka ini menunjukkan bahwa keberadaan rusa di Nara terus berkembang, dan pengunjung terus berperan aktif dalam proses tersebut.
Kebiasaan memberi makan rusa dengan bahan selain pakan resmi, seperti biskuit atau sayuran, membuat hewan-hewan ini kehilangan kebiasaan alami untuk mencari makanan. Hal ini juga menyebabkan pertumbuhan populasi yang tidak terkendali, karena rusa dapat melahirkan lebih banyak keturunan. Yayasan meminta pengunjung untuk mematuhi aturan pemberian makanan yang sudah ditentukan agar tidak mengganggu kesehatan dan kehidupan rusa.
Sekretaris Jenderal Yayasan Pelestarian Rusa Nara, Nobuyuki Yamazaki, menegaskan bahwa pengunjung harus lebih berhati-hati saat melewati area taman. “Memberi makan rusa dengan bahan yang tidak sesuai dapat berdampak negatif pada ekosistem lokal,” katanya.
Keselamatan dan Ancaman pada Rusa
Meski populasi rusa meningkat, ancaman terhadap keselamatan mereka juga semakin tinggi. Hingga akhir Juni 2020, tercatat 198 rusa yang meninggal, termasuk 72 ekor anak rusa. Mayoritas kematian disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, karena rusa sering kali berlarian ke jalan raya saat mencari makanan. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi manusia dengan rusa, meski terlihat ramah, bisa berakibat fatal.
Dalam upaya mengurangi risiko ini, yayasan sedang merancang strategi baru untuk mengendalikan populasi rusa. Salah satu langkahnya adalah memperketat pengawasan terhadap kebiasaan pengunjung memberi makan. Mereka juga mengimbau pengemudi untuk lebih berhati-hati saat melewati area taman, karena rusa bisa tiba-tiba keluar dari hutan atau kebun warga. Selain itu, pemberian makanan yang tidak tepat juga berpotensi menyebabkan rusa menjadi lebih agresif atau mengubah pola migrasi mereka.
Peningkatan populasi rusa di Nara juga mempengaruhi kehidupan warga sekitar. Kebun sayur dan lahan pertanian di dekat taman sering kali menjadi korban karena rusa memasuki area tersebut untuk mencari makanan. Selain itu, peningkatan jumlah rusa juga memicu perubahan ekosistem lokal, karena hewan-hewan ini mulai mengambil peran dominan dalam rantai makanan alami.
