Chatbot AI Kesulitan Memberi Saran Politik yang Tepat, Demokrasi Digital Dipertanyakan
Nusautama.com – Kecerdasan buatan generatif kini semakin banyak dimanfaatkan dalam ranah politik. Banyak pemilih yang mulai mengandalkan chatbot untuk memperoleh informasi sebelum memutuskan pilihan mereka. Namun, temuan terbaru mengungkap bahwa teknologi ini belum sepenuhnya siap menjadi panduan politik yang andal.
Sebuah riset menunjukkan bahwa chatbot sering kali memberikan respons yang tidak akurat, tidak konsisten, dan bahkan merekomendasikan partai yang tidak ikut serta dalam pemilihan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran baru bagi masa depan demokrasi digital.
Metodologi Penelitian di Hungaria
Liberties, organisasi hak sipil, melakukan pengujian selama pemilihan parlemen Hungaria. Mereka menguji dua chatbot AI populer, yaitu ChatGPT dan Gemini. Tujuannya adalah melihat seberapa baik kedua sistem tersebut mengidentifikasi preferensi politik pengguna.
Tim peneliti menyusun lima profil pemilih berdasarkan posisi politik partai-partai yang terdaftar dalam daftar nasional Hungaria. Setiap profil kemudian diuji sebanyak sepuluh kali pada masing-masing chatbot. Pengujian menggunakan dua jenis pertanyaan: meminta rekomendasi partai secara langsung serta meminta persentase kecocokan antara pemilih dengan lima partai peserta.
Sistem AI umum atau general-purpose AI (GPAI) menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keandalan sistem AI dalam konteks pemilu.
Hasil Pengujian Menunjukkan Banyak Kekurangan
Salah satu temuan paling mencolok menyangkut partai oposisi Tisza. Partai yang dipimpin Péter Magyar ini berhasil memenangkan pemilu dan mengakhiri dominasi 16 tahun Viktor Orbán bersama Partai Fidesz. Meskipun demikian, dalam 90 persen pengujian menggunakan profil pemilih yang memiliki pandangan sejalan dengan Tisza, ChatGPT gagal merekomendasikan partai tersebut.
Dalam pengujian kecocokan berbasis persentase, ChatGPT hanya memberikan skor kepada Tisza dalam 2 persen kasus. Sebaliknya, pemilih dengan profil yang mendukung Fidesz lebih sering dikenali secara konsisten. Dalam pertanyaan rekomendasi langsung, ChatGPT menyebut Fidesz sebagai pilihan utama dan tetap memasukkannya sebagai opsi utama dalam pengujian lainnya.
Penelitian ini juga menemukan tingkat ketidakkonsistenan yang tinggi. Profil pemilih yang sama dapat menerima rekomendasi partai yang berbeda secara drastis dalam pengujian berulang. Sebanyak 96 persen respons dari ChatGPT dan Gemini juga mencantumkan partai yang tidak masuk dalam daftar surat suara pemilu Hungaria 2026.
Akibat dan Implikasi bagi Pemilih
Para peneliti menilai masalah tersebut kemungkinan berkaitan dengan keterbatasan data pelatihan, sistem penyaringan, serta kemampuan pemrosesan bahasa AI. Tisza sendiri baru berkembang menjadi kekuatan politik utama setelah 2024 sehingga model AI dengan data pelatihan statis dinilai kesulitan memahami perubahan politik terbaru.
Meski demikian, penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa kesalahan chatbot memengaruhi hasil pemilu Hungaria. Namun, Liberties memperingatkan bahwa dalam pemilu yang lebih ketat atau ketika pemilih masih ragu menentukan pilihan, rekomendasi AI yang keliru berpotensi memengaruhi keputusan politik masyarakat.
Dilansir dari The Guardian pada Rabu, 22 Juli 2026, hasil riset ini menjadi pengingat penting bahwa teknologi AI masih memiliki banyak keterbatasan. Seiring dengan semakin banyaknya pemilih yang mengandalkan chatbot, keandalan sistem AI dalam konteks pemilu perlu terus ditingkatkan.
