Nusautama.com – “`html
Senat AS Lanjutkan Pembahasan RUU Sanksi Baru untuk Rusia dan Iran
Majelis tinggi Kongres Amerika Serikat telah memberikan persetujuan terhadap sebuah mosi yang bertujuan untuk meneruskan pembahasan rancangan undang-undang mengenai penerapan sanksi tambahan. RUU ini mencakup negara-negara seperti Iran serta Rusia dalam skema sanksi yang akan diterapkan.
Persetujuan tersebut dicapai melalui pemungutan suara prosedural yang kedua kalinya. Dalam proses tersebut, lebih dari separuh anggota senat yang hadir memberikan suara mendukung kelanjutan pembahasan. Dengan demikian, RUU ini memenuhi syarat untuk masuk ke tahap pembahasan resmi di Senat, tempat para senator memiliki kesempatan untuk mengajukan perubahan atau amendemen.
Setelah tahap amendemen selesai, Senat AS akan kembali menggelar pemungutan suara prosedural. Kali ini, ambang batas yang diperlukan adalah sebanyak 60 suara guna menerapkan cloture. Cloture sendiri merupakan prosedur parlementer formal yang berfungsi untuk mengakhiri debat dan memaksa dilakukannya pemungutan suara akhir, yang hanya membutuhkan mayoritas sederhana untuk disetujui.
Jika RUU ini berhasil disetujui oleh Senat, maka dokumen tersebut akan diteruskan ke Dewan Perwakilan Rakyat AS untuk dibahas lebih lanjut. Pemungutan suara terakhir ini merupakan tahap prosedural kedua yang dilakukan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Sebelumnya, pada hari Selasa tanggal 28 Juli, Senat telah melakukan pemungutan suara untuk mengakhiri perdebatan mengenai mosi yang sama.
Konten RUU Sanksi
Rancangan undang-undang yang dirilis pada awal bulan Juli ini, sebagaimana ditinjau dan dikutip oleh RIA Novosti, mengatur perubahan tarif. Tarif yang sebelumnya diusulkan sebesar 500 persen untuk lima pembeli terbesar minyak dan gas Rusia akan diturunkan menjadi 100 persen.
Selain itu, RUU ini juga menetapkan tarif bea masuk sebesar 500 persen untuk seluruh barang yang diimpor dari Rusia ke Amerika Serikat. Dokumen tersebut juga mengusulkan penerapan sanksi terhadap beberapa institusi keuangan dan energi Rusia, termasuk Bank Sentral Rusia, Sberbank, VTB, dan Gazprombank.
Pada hari Selasa tanggal 14 Juli, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya sedang menelaah RUU tersebut. Ia mengungkapkan bahwa menurutnya, RUU ini memiliki peluang besar untuk disahkan oleh Kongres AS.
Trump mengatakan keputusan tersebut dilakukan untuk menghormati almarhum Senator Lindsey Graham.
“`
