𝕏 f WA
Internasional

Fukushima Berjuang Lestarikan Jejak Bencana Nuklir 2011, Terkendala Akses dan Biaya

Fukushima Berjuang Lestarikan Jejak Bencana Nuklir 2011, Terkendala Akses dan Biaya
Foto : Christopher Johnson - nusautama.com

Upaya Pelestarian Warisan Bencana Fukushima Hadapi Tantangan Logistik dan Finansial

Nusautama.com – Foto yang diabadikan pada 3 Februari 2024 menampilkan berbagai barang peninggalan di bekas Sekolah Dasar Kumamachi yang kini telah tutup, berlokasi di Kota Okuma, Prefektur Fukushima, Jepang. (Kyodo)

Komunitas Lokal Berjuang Menjaga Ingatan Sejarah

Berbagai kelompok masyarakat di wilayah Prefektur Fukushima terus melakukan upaya untuk melestarikan struktur bangunan yang rusak parah akibat rangkaian bencana tahun 2011. Struktur-struktur tersebut diharapkan dapat berfungsi sebagai monumen pengingat bagi generasi mendatang tentang besarnya dampak bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jepang.

Seperti dilaporkan Kyodo pada hari Rabu (22/7), gerakan pelestarian ini terus berkembang meskipun masih menghadapi berbagai hambatan. Dua tantangan utama yang dihadapi adalah pembatasan akses ke lokasi dan tingginya biaya renovasi yang diperlukan untuk membuka situs-situs tersebut bagi masyarakat luas.

Bencana berkekuatan magnitudo 9,0 mengguncang wilayah timur laut Jepang pada 11 Maret 2011. Gempa besar tersebut diikuti oleh tsunami yang memicu kecelakaan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, menyebabkan puluhan ribu warga harus mengungsi dari rumah mereka.

Bekas Sekolah Dasar Kumamachi: Saksi Bisu Bencana

Salah satu lokasi yang ingin dipertahankan adalah bekas Sekolah Dasar Kumamachi di Kota Okuma. Saat bencana terjadi, sekitar 330 siswa masih terdaftar di sekolah tersebut dan sebagian berada di dalam gedung.

Meski sekolah tidak diterjang tsunami, seluruh siswa harus dievakuasi setelah kecelakaan nuklir. Hingga kini, tas sekolah, buku, dan perlengkapan belajar masih dibiarkan berada di dalam ruang kelas seperti saat ditinggalkan.

Sekelompok warga setempat secara rutin mengadakan kegiatan untuk merawat bangunan beserta barang-barang yang tersisa. Mereka berharap kondisi sekolah tetap dipertahankan sebagai bukti nyata dampak bencana nuklir terhadap kehidupan masyarakat.

“Bencana nuklir menghancurkan fondasi kehidupan kami dan memecah komunitas. Melestarikan tempat ini dapat menunjukkan dampaknya,” kata Shinya Ishikawa, 25, alumnus sekolah yang ditutup permanen pada Maret 2022.

Pemerintah Kota Okuma membentuk panel yang terdiri atas warga dan para ahli pada 4 Juni untuk membahas masa depan bangunan tersebut. Keputusan mengenai pelestarian sekolah ditargetkan selesai sebelum akhir tahun fiskal berjalan.

Namun, lokasi sekolah menjadi hambatan besar. Bangunan itu berada di dalam kawasan penyimpanan sementara tanah hasil proses dekontaminasi radiasi sekaligus termasuk zona yang sulit dihuni kembali, sehingga akses masyarakat sangat dibatasi.

Menurut jadwal pemerintah, pembuangan akhir tanah hasil dekontaminasi diperkirakan baru selesai sekitar 19 tahun lagi. Berbeda dengan situs warisan bencana di Prefektur Iwate dan Miyagi, pembukaan sekolah untuk umum membutuhkan koordinasi yang jauh lebih rumit.

Leave a comment πŸ’¬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *