Jakarta dan Bali Dipersiapkan jadi Pusat Keuangan Masa Depan Indonesia
Nusautama.com – Pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan rencana strategis untuk mengembangkan dua wilayah utama sebagai pusat keuangan internasional. Melalui inisiatif ini, Jakarta dan Bali Dipersiapkan jadi lokasi strategis bagi Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Langkah ini merupakan bagian dari visi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional di kancah global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi persnya di Jakarta pada Senin (22/6/2026), menegaskan bahwa kedua kota ini telah melalui proses seleksi ketat. Ia menjelaskan bahwa persiapan infrastruktur dan regulasi telah dimulai sejak beberapa waktu lalu untuk memastikan kesiapan optimal.
Infrastruktur dan Lokasi di Jakarta
Untuk wilayah Jakarta, pemerintah telah mengidentifikasi satu gedung yang sudah tersedia sebagai kantor pusat PFII. Gedung ini dipilih berdasarkan pertimbangan lokasi strategis yang mudah diakses oleh pelaku bisnis internasional. Airlangga menyatakan bahwa fasilitas ini sudah siap digunakan tanpa memerlukan renovasi besar-besaran.
“Memang disiapkan satu lokasi di Jakarta yang gedungnya sudah ada,” ujar Airlangga saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (23/7).
Ketersediaan gedung ini menjadi nilai tambah signifikan karena dapat mempercepat proses operasional PFII. Selain itu, lokasi di Jakarta juga memberikan akses yang lebih baik terhadap jaringan transportasi dan akomodasi untuk para investor asing.
Persiapan Lokasi di Bali
Sementara itu, untuk Pulau Bali, proses pencarian dan persiapan lokasi masih berlangsung intensif. Pemerintah sedang mengidentifikasi tempat-tempat yang sesuai untuk mendukung kebutuhan investasi di masa depan. Beberapa alternatif lokasi telah diidentifikasi dan sedang dalam tahap evaluasi lebih lanjut.
“Ada beberapa tempat disiapkan (di Bali),” ujarnya.
Meskipun demikian, Airlangga belum dapat menyebutkan secara pasti kota mana di Bali yang akan digunakan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan PFII. Ia menambahkan bahwa lokasi yang dipilih merupakan aset milik Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah telah memiliki aset yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung program ini.
Klarifikasi Status Kepemilikan Aset
Dalam konfirmasi terkait aset yang digunakan, Airlangga membantah klaim bahwa lokasi PFII sepenuhnya milik Injourney. Ia menegaskan bahwa kepemilikan aset lebih kompleks dan melibatkan berbagai pihak terkait. Pernyataan ini penting untuk memberikan kejelasan kepada publik mengenai struktur kepemilikan.
“Tidak melulu Injourney,” ucapnya.
Klarifikasi ini membantu menghilangkan kebingungan yang mungkin muncul di kalangan investor dan masyarakat umum. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang status aset, diharapkan proses investasi dapat berjalan lebih lancar.
Posisi PFII di Luar Kawasan Ekonomi Khusus
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah memastikan bahwa PFII tidak akan ditempatkan di dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Keputusan ini diambil untuk menghindari tumpang tindih status antara kedua zona tersebut. Purbaya menjelaskan bahwa meskipun undang-undang melarang hal tersebut, status KEK masih dapat diubah.
“Undang-undang enggak boleh KEK, tapi status KEK bisa dirubah. Yang penting enggak boleh double,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Juli, di Jakarta, Selasa (21/7).
Yang terpenting adalah tidak adanya duplikasi status yang dapat menimbulkan kebingungan regulasi. Langkah ini juga memastikan bahwa PFII dapat beroperasi dengan kerangka hukum yang jelas dan tidak bertabrakan dengan zona ekonomi lainnya.
Proses Penentuan Lokasi Final
Keputusan final mengenai lokasi PFII akan ditentukan oleh Menteri Keuangan sesuai dengan amanat undang-undang, namun tetap melalui proses penilaian yang dilakukan oleh tim secara objektif. Hingga saat ini, Purbaya belum dapat memastikan lokasi pasti PFII akan berada di mana.
Paparan mengenai persiapan ini disampaikan oleh Airlangga dalam konferensi pers Stimulus Pertumbuhan Ekonomi Semester 2 Tahun 2026 di Jakarta pada Senin (22/6/2026). Dengan langkah-langkah yang telah diambil, diharapkan Jakarta dan Bali Dipersiapkan jadi pusat keuangan internasional yang kompetitif dalam waktu dekat.
