Energi

Pemerintah Masih Tahan Harga Pertalite dan Biosolar meski Minyak Dunia USD 107 per Barel

Pemerintah Masih Tahan Harga Pertalite dan Biosolar meski Minyak Dunia USD 107 per Barel
Foto : David Jackson - nusautama.com

Harga Pertalite dan Biosolar Tetap Ditahan hingga Akhir Tahun

Nusautama.com – Pemerintah memutuskan untuk mempertahankan harga Pertalite dan Biosolar, meskipun harga minyak dunia bergerak naik hingga sempat mencapai USD 107 per barel pada akhir September 2026. Kepastian ini menjadi perhatian penting bagi masyarakat karena kedua jenis bahan bakar tersebut termasuk BBM bersubsidi dan banyak digunakan untuk kebutuhan transportasi sehari-hari.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot, menyampaikan bahwa kebijakan menahan harga Pertalite akan diteruskan sampai penghujung tahun. Pernyataan itu disampaikan usai kegiatan ziarah di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Selasa (29/9).

“Kalau untuk pertalite, yang disampaikan sama Pak Menteri (ESDM Bahlil Lahadalia), sampai dengan akhir tahun kita mempertahankan ini tidak ada kenaikan untuk pertalite, untuk BBM bersubsidi,” ujar Yuliot.

Keputusan tersebut membuat harga BBM bersubsidi tidak langsung mengikuti lonjakan harga minyak di pasar internasional. Pertalite dan Biosolar memiliki peran besar dalam mobilitas masyarakat serta distribusi barang, sehingga perubahan tarifnya berpotensi memengaruhi pengeluaran rumah tangga dan biaya operasional pelaku usaha.

BBM Nonsubsidi Mengikuti Pergerakan Pasar

Situasi berbeda berlaku untuk produk BBM nonsubsidi. Harga bahan bakar dalam kategori ini tetap dapat mengalami penyesuaian karena mengacu pada perkembangan pasar. Pemerintah akan memperhitungkan rata-rata harga minyak dunia selama satu bulan sebelum menentukan perubahan harga yang diperlukan.

“Jadi ini kami melihat rata-rata dalam satu bulan itu kira-kira berapa, penyesuaiannya kira-kira berapa,” ucap Yuliot.

Dengan mekanisme tersebut, kenaikan harga minyak pada satu hari tertentu tidak serta-merta diterjemahkan menjadi perubahan harga di tingkat konsumen. Penghitungan rata-rata bulanan digunakan untuk melihat arah pergerakan harga secara lebih menyeluruh sebelum kebijakan penyesuaian diterapkan pada BBM nonsubsidi.

Perbedaan perlakuan antara BBM subsidi dan nonsubsidi mencerminkan dua tujuan kebijakan yang berjalan bersamaan. Pemerintah berupaya menjaga daya beli pengguna Pertalite dan Biosolar, sementara harga produk nonsubsidi tetap disesuaikan dengan kondisi komersial serta perubahan biaya energi global.

Konflik Geopolitik Mendorong Harga Minyak Naik

Harga minyak dunia meningkat di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Gejolak geopolitik tersebut mendorong pasar energi menjadi lebih sensitif, terutama karena kawasan terkait memiliki arti penting bagi pasokan minyak global. Pada akhir September 2026, harga minyak sempat menyentuh USD 107 per barel.

Level itu memperlihatkan penguatan dibandingkan periode Juni dan Juli, ketika harga minyak sempat melandai. Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak global perlu dicermati karena kebutuhan energi nasional masih berkaitan dengan perdagangan minyak internasional, baik dalam pengadaan bahan bakar maupun pengelolaan kebijakan fiskal.

Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada biaya pengadaan energi. Perubahan tersebut juga dapat memengaruhi perhitungan subsidi, kompensasi, dan asumsi ekonomi pemerintah. Karena itu, keputusan mempertahankan harga BBM bersubsidi perlu dibaca bersama dengan upaya menjaga keseimbangan anggaran negara.

Asumsi ICP dan Kondisi Anggaran Negara

Purbaya Yudhi Sadewa, saat masih menjabat Menteri Keuangan, sebelumnya menyatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tetap dapat dikendalikan hingga akhir tahun apabila rata-rata harga patokan minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price berada di sekitar USD 100 per barel.

ICP merupakan salah satu indikator penting dalam penyusunan asumsi makroekonomi. Angka tersebut membantu pemerintah memperkirakan berbagai konsekuensi dari perubahan harga minyak, termasuk kebutuhan pembiayaan energi serta penerimaan yang berkaitan dengan sektor minyak dan gas bumi.

Penghitungan Yayan Satyakti, peneliti sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, menunjukkan rata-rata ICP sepanjang Januari sampai September berada di kisaran USD 90,6 per barel. Rata-rata ini masih berada di bawah asumsi USD 100 yang disebut Purbaya, meski lonjakan harga pada penghujung September tetap menjadi perkembangan yang perlu diperhatikan.

Selisih antara rata-rata harga selama sembilan bulan dan lonjakan harian atau mingguan memberi gambaran bahwa tekanan pasar belum selalu tercermin penuh dalam rata-rata tahunan. Namun, apabila harga tinggi berlangsung lebih lama, dampaknya terhadap perhitungan subsidi dan anggaran berpotensi menjadi lebih besar.

Percepatan Kegiatan Migas

Selain menjaga harga BBM subsidi, Kementerian ESDM menyiapkan respons dari sisi pasokan energi. Yuliot menyatakan pemerintah akan mempercepat eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi di tengah kenaikan harga akibat ketidakpastian geopolitik.

Eksplorasi berfokus pada pencarian potensi cadangan baru, sedangkan eksploitasi berkaitan dengan pengembangan dan produksi dari sumber daya yang telah ditemukan. Percepatan kedua kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional ketika pasar minyak internasional bergejolak.

Bagi pengguna BBM, kebijakan yang berlaku saat ini berarti harga Pertalite dan Biosolar tetap tidak naik hingga akhir tahun. Sementara itu, pengguna BBM nonsubsidi perlu memperhatikan pengumuman penyesuaian harga yang dapat dilakukan sesuai rata-rata perkembangan minyak dunia dalam periode bulanan.

Pergerakan harga minyak global akan tetap menjadi faktor penting dalam beberapa bulan mendatang. Pemerintah dihadapkan pada kebutuhan untuk menjaga akses masyarakat terhadap BBM bersubsidi, mengendalikan beban anggaran, serta memperkuat pasokan minyak dan gas dalam negeri di tengah perubahan kondisi internasional.

Frequently Asked Questions

What is Pemerintah Masih Tahan Harga Pertalite dan Biosolar?

Pemerintah Masih Tahan Harga Pertalite dan Biosolar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pemerintah Masih Tahan Harga Pertalite dan Biosolar matter?

Pemerintah Masih Tahan Harga Pertalite dan Biosolar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a comment 💬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *