𝕏 f WA
Finance

Laporan Penipuan Keuangan Capai 579 Ribu – Perbankan dan Fintech Diminta Pakai AI untuk Sistem Pencegahan

Laporan Penipuan Keuangan Capai 579 Ribu – Perbankan dan Fintech Diminta Pakai AI untuk Sistem Pencegahan

Laporan Penipuan Keuangan Capai 579 Ribu, Perbankan dan Fintech Diminta Pakai AI untuk Sistem Pencegahan

Kenaikan Transaksi Digital dan Risiko Penipuan

Laporan Penipuan Keuangan Capai 579 Ribu – Penggunaan teknologi AI dinilai dapat meminimalkan risiko penipuan finansial yang semakin meningkat. Dalam laporan terbaru, ancaman penipuan transaksi keuangan mencapai angka yang cukup mengkhawatirkan, dengan total laporan mencapai 579.459 selama periode 22 November 2024 hingga 31 Mei 2026.

Menurut data dari Indonesia AntiScam Centre (IASC) yang dioperasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah rekening yang terlapor sebanyak 998.558, dengan 515.553 di antaranya berhasil diblokir. Dana yang berhasil diamankan dari korban penipuan mencapai Rp 638,9 miliar.

Dalam beberapa tahun terakhir, transaksi keuangan digital di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,15 miliar pada April 2026, naik 42,86 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing tumbuh 15,92 persen serta 22,95 persen, sementara QRIS mengalami peningkatan hingga 108,43 persen.

Pola Penipuan yang Berkembang

Banking Fraud Risk Technology Practitioner, Bayu Hasdianto, menyoroti kecepatan transaksi digital yang terus meningkat. “Deteksi dini risiko penipuan menjadi kunci untuk mengurangi kerugian, terutama karena pola penipuan terus berubah, mulai dari manipulasi sosial hingga penyalahgunaan kanal digital,” ujarnya, Jumat (3/7).

Bayu menekankan bahwa sistem manajemen penipuan harus mampu menganalisis berbagai aspek, seperti perilaku nasabah, perangkat yang digunakan, dan saluran transaksi. Dengan kemampuan ini, risiko bisa ditekan lebih efektif.

Peran AI dalam Sistem Pencegahan

Deputy Vice President di M2P Fintech, Madhusudhan Ramakrishnan, menambahkan bahwa teknologi AI dapat memperkuat upaya deteksi dan pencegahan penipuan. “Sistem AI tidak hanya memberi peringatan, tetapi juga membantu tim memahami konteks setiap risiko,” katanya.

“Dengan integrasi teknologi, manajemen penipuan bisa lebih proaktif, akurat, dan relevan dengan kebutuhan bisnis. AI memungkinkan penilaian risiko, prioritas respons, serta pembelajaran dari kasus sebelumnya,” ujar Madhusudhan.

Dari data yang disebutkan, perbankan dan fintech wajib mengembangkan solusi berbasis AI untuk menghadapi penipuan yang semakin kompleks. Hal ini diharapkan dapat menjamin keamanan transaksi dan meminimalkan kerugian di masa depan.

Leave a comment πŸ’¬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *