𝕏 f WA
Hobi Kesenangan

Indonesia Punya 153 Juta Gamer, Potensial Lahirkan Studio Game Kelas Dunia

Indonesia Punya 153 Juta Gamer, Potensial Lahirkan Studio Game Kelas Dunia
Foto : David Taylor - nusautama.com

Indonesia Punya 153 Juta Gamer: Peluang Besar Menuju Studio Game Kelas Dunia

Nusautama.com – Indonesia Punya 153 Juta Gamer yang menjadi fondasi kuat bagi perkembangan industri game nasional. Angka ini menunjukkan bahwa negara kita memiliki basis konsumen yang sangat besar untuk mendukung pertumbuhan ekosistem game. Meskipun demikian, industri game tanah air masih menghadapi berbagai tantangan dalam memunculkan lebih banyak studio lokal yang kompetitif di kancah internasional. Dengan jumlah gamer mencapai 153 juta orang, nilai pasar diperkirakan menyentuh angka USD 1,9 miliar atau setara Rp 31 triliun. Potensi ini belum sepenuhnya termanfaatkan untuk melahirkan perusahaan game berkelas dunia.

Tantangan dalam Mengembangkan Industri Game Nasional

Para pelaku industri mengidentifikasi beberapa hambatan utama dalam pertumbuhan sektor game nasional. Keterbatasan sumber daya manusia tingkat lanjut masih menjadi kendala serius yang menghambat kemajuan industri. Selain itu, akses terhadap pendanaan yang memadai juga perlu ditingkatkan agar studio-studio lokal dapat berkembang lebih pesat. Kemampuan untuk menembus pasar global masih menjadi tantangan tersendiri bagi banyak pengembang game Indonesia.

Aspek kepemimpinan bisnis dan daya komersial juga perlu ditingkatkan secara signifikan. Kesenjangan antara permintaan dan produksi lokal menjadi perhatian utama para pemangku kepentingan. Saat ini, pasar Indonesia masih didominasi oleh game mobile, sementara banyak studio dalam negeri lebih memilih mengembangkan game premium untuk PC dan konsol yang ditujukan bagi audiens luar negeri. Kondisi ini membuka peluang besar untuk menghadirkan lebih banyak produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen domestik.

Peran Strategis RMIT dalam Menguatkan Ekosistem

Direktur RMIT Indonesia, Tantia Dian Permata Indah, menekankan bahwa negara ini sudah memiliki fondasi kuat berupa pasar luas, talenta kreatif, serta ekosistem pengembangan game yang terus berkembang. Namun, langkah selanjutnya adalah membekali para pengembang dengan kemampuan bisnis dan wawasan internasional yang mumpuni.

“Indonesia telah memiliki pasar yang besar, talenta kreatif yang kuat, serta ekosistem pengembangan game yang terus bertumbuh. Langkah berikutnya adalah memastikan para pengembang dan pendiri studio tidak hanya memiliki keahlian teknis, tetapi juga kemampuan bisnis dan wawasan internasional untuk membangun perusahaan yang berkelanjutan serta membawa kekayaan intelektual Indonesia kepada audiens global,” ujar Tantia kepada wartawan, Senin (3/8).

Menurut Tantia, kebutuhan industri game saat ini tidak lagi hanya bergantung pada programmer atau desainer. Studio game juga membutuhkan produser, tenaga pemasaran, hingga pemimpin bisnis yang mampu memahami pasar, mengelola proses produksi, menarik investor, dan membangun kemitraan internasional. Kolaborasi antara berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam mengembangkan industri game Indonesia.

Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Data menunjukkan bahwa sepanjang periode 2019 hingga 2025, Indonesia berhasil menghasilkan 203 judul game independen. Angka ini mewakili sekitar sepertiga dari total produksi game independen di kawasan Asia Tenggara. Meskipun demikian, capaian tersebut masih dinilai belum sebanding dengan besarnya potensi pasar domestik yang dimiliki.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam forum yang mempertemukan RMIT dengan sejumlah pelaku industri game Indonesia, termasuk Agate dan Asosiasi Game Indonesia (AGI) yang difasilitasi Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia. Pertemuan tersebut membahas upaya memperkuat kapasitas studio lokal sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak IP asli Indonesia.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem, RMIT telah menjalin berbagai kolaborasi di Indonesia, termasuk bekerja sama dengan EKRAF dan Apple dalam pelatihan desain game digital pada 2024 dan 2025, serta memperluas kemitraan dengan Infinite Learning melalui program pengembangan game, animasi, dan kewirausahaan.

Ke depan, RMIT juga akan memperkuat kolaborasi melalui RMIT Southeast Asia Hub yang akan menghubungkan pemerintah, industri, institusi pendidikan, dan komunitas di Indonesia, Australia, serta Asia Tenggara guna meningkatkan keterampilan, kemampuan komersial, dan daya saing industri game Indonesia di tingkat global.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Industri Game Indonesia

Berapa jumlah gamer potensial di Indonesia? Indonesia Punya 153 Juta Gamer yang menjadi pasar potensial bagi perkembangan industri game nasional. Angka ini menunjukkan basis konsumen yang sangat besar untuk mendukung pertumbuhan ekosistem game.

Berapa nilai pasar game di Indonesia? Nilai pasar game di Indonesia diperkirakan menyentuh angka USD 1,9 miliar atau setara Rp 31 triliun, menunjukkan potensi ekonomi yang signifikan.

Berapa banyak game independen yang dihasilkan Indonesia? Sepanjang periode 2019 hingga 2025, Indonesia berhasil menghasilkan 203 judul game independen yang mewakili sekitar sepertiga dari total produksi game independen di kawasan Asia Tenggara.

Apa saja tantangan utama industri game Indonesia? Tantangan utama meliputi keterbatasan sumber daya manusia tingkat lanjut, akses pendanaan, kemampuan menembus pasar global, serta aspek kepemimpinan bisnis dan daya komersial.

Bagaimana RMIT berkontribusi dalam pengembangan industri game? RMIT menjalin berbagai kolaborasi termasuk bekerja sama dengan EKRAF, Apple, dan Infinite Learning dalam pelatihan desain game digital serta program pengembangan game, animasi, dan kewirausahaan.

Leave a comment πŸ’¬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *