Peneliti IPB Gabung 4 Varietas Habanero Lokal Hasilkan Kepedasan 1,3 Juta SHU
Peneliti IPB Gabung 4 Varietas Habanero – Sebuah penemuan pertanian baru yang mengejutkan telah diraih oleh tim peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) University. Empat varietas cabai habanero lokal yang dikembangkan oleh para peneliti IPB berhasil mencapai tingkat kepedasan mencapai 1,3 juta unit Scoville (SHU), sebuah angka yang menempatkan mereka di level ekstrem. Ini adalah pertama kalinya varietas habanero dengan sifat pedas tinggi ini didaftarkan secara resmi oleh Kementerian Pertanian, menandai langkah penting dalam pengembangan sektor pertanian Indonesia.
Pengembangan Varietas Cabai Berbasis Lokal
Peneliti IPB, khususnya Profesor Muhamad Syukur dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, menyatakan bahwa pengembangan keempat varietas habanero ini merupakan hasil kerja kolaboratif yang sangat intens. Varietas yang berhasil terdaftar meliputi Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB. Sebelumnya, habanero di Indonesia hanya dikenal sebagai varietas Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan. Kehadiran varietas lokal ini tidak hanya memperkaya pilihan pertanian, tetapi juga meningkatkan ketahanan terhadap kondisi lingkungan yang beragam.
“Kami telah menghasilkan varietas habanero dengan perlindungan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) di Indonesia,” kata Syukur, seperti dilansir pada Kamis (16/7). “Ini merupakan bentuk keberhasilan riset keterlibatan langsung dengan kebutuhan petani lokal.”
Dalam uji coba laboratorium, Tabia Sala 1 IPB terbukti sebagai varietas paling pedas, dengan rentang 1 hingga 1,3 juta SHU. Sementara Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB memiliki tingkat kepedasan antara 500 ribu hingga 350 ribu SHU. Pengembangan ini didasari oleh kebutuhan pasar yang semakin meningkat terhadap cabai dengan rasa pedas ekstrem, baik untuk konsumsi langsung maupun industri seperti pengolahan makanan pedas.
Daya Adaptasi dan Resiliensi Varietas
Salah satu keunggulan utama dari keempat varietas habanero ini adalah kemampuan mereka menyesuaikan diri dengan iklim tropis yang ekstrem. Berbeda dengan varietas impor yang sering kali memiliki keterbatasan adaptasi, cabai hasil IPB dirancang agar tahan terhadap penyakit seperti keriting kuning dan hama yang sering menyerang tanaman cabai. Hal ini penting karena menjaga kualitas panen dan mengurangi risiko kerugian bagi petani.
Peneliti IPB menjelaskan bahwa pengujian dilakukan secara mendetail di berbagai lokasi di Indonesia, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali. Hasilnya menunjukkan bahwa keempat varietas ini tidak hanya memiliki konsistensi dalam kepedasan, tetapi juga mampu berproduksi optimal meski menghadapi perubahan iklim atau kondisi tanah yang tidak ideal. Dukungan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPP) juga memastikan bahwa hasil penelitian ini dapat diaplikasikan secara luas.
Manfaat untuk Petani dan Ekonomi Lokal
Pengembangan varietas habanero lokal IPB diharapkan memberikan manfaat signifikan bagi sektor pertanian nasional. Dengan kepedasan yang lebih tinggi, cabai ini bisa menjadi produk unggulan yang menarik minat pelaku usaha kecil maupun besar. Selain itu, variasi warna pada Tabia Sala Oranye IPB dan Tabia Sala Kuning IPB memperkaya nilai tambah, karena memungkinkan penggunaan dalam berbagai produk makanan dan perikanan.
Kepedasan ekstrem yang dihasilkan varietas ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen cabai kelas dunia. Para peneliti IPB mengatakan bahwa dengan adanya keempat varietas ini, Indonesia tidak lagi bergantung sepenuhnya pada impor cabai habanero. “Ini adalah langkah strategis untuk memastikan ketahanan pangan dan kemandirian pertanian,” tegas Syukur dalam wawancara terpisah.
Sebagai langkah selanjutnya, Benih Dramaga telah mengeluarkan benih dari keempat varietas tersebut, sehingga petani di seluruh Indonesia dapat mengaksesnya dengan mudah. Proses distribusi ini didukung oleh pemerintah dalam upaya meningkatkan produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor. Dengan peneliti IPB gabung 4 varietas, pertanian Indonesia kini memiliki alat baru untuk bersaing dalam pasar global.
