Suami Istri dari Bogor Ikut Demo DPR
Nusautama.com – Suami Istri dari Bogor Ikut aksi demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, pada Kamis (27/8). Pasangan tersebut adalah Dodo, 57 tahun, dan istrinya Mai, 55 tahun, yang bermukim di kawasan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Keduanya datang membawa keresahan yang dirasakan luas oleh warga kelas bawah, mulai dari lonjakan harga bahan kebutuhan pokok hingga penyempitan ruang mencari nafkah di sektor informal. Kehadiran mereka di tengah ribuan peserta aksi menjadi potret kecil dari tekanan ekonomi yang menimpa jutaan rumah tangga di seluruh Indonesia.
Keluhan Ekonomi yang Mendorong Kehadiran di Aksi
Dodo menjelaskan bahwa tekanan ekonomi merupakan pemicu utama keikutsertaannya dalam demonstrasi tersebut. Ia sehari-hari bekerja secara lepas sebagai pemasang kusen aluminium dan kaca, sehingga setiap kenaikan harga material bangunan langsung memukul usahanya. Bagi pekerja freelance seperti dirinya, tidak ada jaminan pendapatan tetap; setiap rupiah tambahan pada harga bahan berarti proyek yang lebih sedikit dan penghasilan yang makin menipis dari waktu ke waktu.
“Untuk ekonomi saat ini memang jelas berat banget untuk masyarakat model saya. Karena untuk harga sembako itu jauh banget harganya,” ujar Dodo kepada JawaPos.com di sela-sela aksi.
Ia menambahkan bahwa lonjakan biaya hidup memperberat tanggungan keluarga secara signifikan. Harga beras, minyak goreng, dan kebutuhan dapur lainnya terus merangkak naik, sementara pendapatan dari pekerjaan lepas tidak mengikuti laju inflasi. Tidak ada kontrak jangka panjang yang bisa diandalkan, sehingga setiap bulan menjadi ujian tersendiri bagi keberlangsungan ekonomi rumah tangganya. Harapan besarnya sederhana: pemerintah mampu merumuskan kebijakan yang membuat pangan, layanan pendidikan, dan fasilitas kesehatan kembali terjangkau bagi rakyat biasa.
“Yang penting ekonomi terjangkau. Kalau buat masyarakat saya, nggak muluk-muluk,” tegasnya.
Lonjakan Harga Aluminium Tekan Volume Pekerjaan
Dampak kenaikan harga tidak berhenti pada dapur rumah tangga. Bagi Dodo, material utama pekerjaannya — aluminium — mengalami lonjakan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Sekitar lima bulan lalu, satu batang aluminium masih dijual di kisaran Rp 150 ribu. Kini, angkanya sudah mendekati Rp 230 ribu per batang, naik hampir 50 persen dalam waktu singkat.
“Jelas ngaruh. Sekarang untuk aluminium harganya tinggi banget. Konsumen orang-orang mau pasang kusen aluminium sudah mikir dua kali karena harganya sudah selangit,” tuturnya.
Kenaikan biaya material tersebut secara langsung menekan volume pekerjaan yang selama ini menjadi satu-satunya sumber penghasilannya. Ketika harga bahan baku melonjak, konsumen menunda atau membatalkan proyek pemasangan. Bagi Suami Istri dari Bogor Ikut demo ini, setiap proyek yang batal berarti kehilangan satu-satunya pemasukan mingguan tanpa adanya jaring pengaman sosial yang memadai untuk menambal kekosongan pendapatan.
Harapan terhadap Kebijakan Pemerintah
Dodo dan Mai tidak meminta hal yang berlebihan. Mereka berharap pemerintah meninjau ulang kebijakan yang berdampak pada harga bahan pokok dan material bangunan. Stabilitas harga, menurut mereka, akan membuka kembali ruang ekonomi bagi pekerja informal yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga tanpa perlindungan sosial yang cukup. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, mereka khawatir siklus kemiskinan akan terus berputar dari satu generasi ke generasi berikutnya.
FAQ: Hal yang Perlu Diketahui
Kapan dan di mana aksi demonstrasi ini berlangsung? Aksi demonstrasi di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, berlangsung pada Kamis, 27 Agustus. Warga dari berbagai daerah, termasuk Kabupaten Bogor, hadir untuk menyampaikan keluhan terkait ekonomi dan harga kebutuhan pokok.
Siapa yang menyampaikan keluhan dalam laporan ini? Dodo (57 tahun) dan istrinya Mai (55 tahun), warga Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Dodo bekerja sebagai pemasang kusen aluminium dan kaca secara freelance tanpa ikatan kontrak tetap dengan perusahaan mana pun.
Berapa kenaikan harga aluminium yang disebutkan? Harga satu batang aluminium naik dari kisaran Rp 150 ribu menjadi mendekati Rp 230 ribu dalam kurun waktu sekitar lima bulan, atau naik hampir 50 persen. Kenaikan ini langsung mengurangi minat konsumen untuk melakukan pemasangan baru.
Apa harapan utama pasangan tersebut terhadap pemerintah? Mereka berharap kebijakan pemerintah mampu membuat harga pangan, layanan pendidikan, dan fasilitas kesehatan kembali terjangkau bagi masyarakat kelas bawah, sehingga pekerja informal tidak lagi terjebak dalam siklus ketidakpastian pendapatan.
