6 Alasan Mengapa Sebagian Orang Lebih Aman dalam Kekacauan daripada dalam Ketenangan, Menurut Psikologi
Facing Challenges – Banyak orang menganggap ketenangan sebagai kondisi sempurna. Saat tidak ada konflik, tekanan, atau masalah besar, pikiran diharapkan bisa lebih rileks. Namun, bagi sejumlah individu, situasi tenang justru terasa asing. Mereka merasa ada hal yang tidak tepat ketika segalanya berjalan lancar. Akibatnya, secara tidak sadar, mereka menciptakan kekacauan, memicu konflik, atau terus-menerus menantang diri untuk merasa “normal.”
1. Otak Terbiasa dengan Kondisi Stres
Menurut Psychology Today pada Sabtu (18/7), salah satu penyebab utama ini adalah karena otak terbiasa berada dalam tekanan sejak lama. Individu yang tumbuh di lingkungan penuh konflik, tekanan ekonomi, atau ketidakpastian sering mengembangkan sistem saraf yang selalu siaga. Dalam psikologi, respons ini berkaitan dengan mekanisme fight, flight, atau freeze. Tubuh terus bersiap menghadapi ancaman meskipun bahaya sudah tidak ada. Ketika kehidupan akhirnya tenang, otak justru merasa situasi itu aneh.
2. Kekacauan Memberikan Perasaan Kontrol
Secara sekilas, kekacauan tampak tidak terkendali. Namun, bagi sebagian orang, kondisi ini justru memberi rasa percaya diri. Mereka terbiasa menjadi pihak yang menyelesaikan masalah, memutuskan langkah, atau terus-menerus menangani krisis. Identitas mereka berkembang dari kemampuan menghadapi tantangan. Ketika segalanya berjalan baik, mereka merasa kehilangan fungsi. Pertanyaan muncul: “Apa yang harus saya lakukan jika tidak ada masalah?” “Apakah saya masih berguna?” “Mengapa situasi ini terasa aneh?”
3. Keterbiasaan Menghubungkan Ketenangan dengan Ancaman
Banyak orang yang pernah trauma memperlihatkan kecenderungan menganggap ketenangan sebagai tanda kejadian buruk. Contohnya, saat kecil, mereka mungkin mengalami situasi di mana rumah dalam keadaan sunyi sebelum munculnya konflik besar. Akibatnya, otak mulai mengaitkan keheningan dengan ancaman yang akan datang. Saat dewasa, pola ini masih bertahan. Mereka berpikir: “Pasti akan ada hal yang memicu kekacauan.” “Ini terlalu baik untuk benar-benar terjadi.” “Saya harus siap.”
4. Hormon Adrenalin Menjadi Bagian dari Kebiasaan
Saat menghadapi tekanan, tubuh menghasilkan adrenalin dan kortisol. Kedua hormon ini membantu seseorang tetap fokus dan siap menghadapi tantangan. Jika kondisi seperti ini terjadi terus-menerus selama bertahun-tahun, tubuh bisa terbiasa dengan sensasi tersebut. Akibatnya, ketika kehidupan mulai tenang, seseorang merasa bosan, hampa, atau bahkan tidak bersemangat. Mereka lalu mencari aktivitas yang memicu ketegangan, seperti bekerja berlebihan atau mengambil risiko yang tidak perlu.
5. Kesibukan Menjadi Pengukur Kepuasan Diri
Dalam masyarakat modern, kesibukan sering dianggap sebagai indikator keberhasilan. Tidak sedikit orang merasa berharga hanya ketika terus-menerus bekerja atau menyelesaikan tugas. Mereka sulit beristirahat karena takut kehilangan peran. Pola ini berkembang menjadi keyakinan bahwa nilai diri hanya muncul ketika terjadi aktivitas berat. Saat hidup tenang, mereka merasa kehilangan arah atau merasa tidak penting.
6. Psikologi Membongkar Hubungan Ketenangan dengan Rasa Khawatir
Psikologi menyebut bahwa sebagian identitas manusia memang terkait dengan peran tertentu. Jika identitas itu bergantung pada situasi darurat, ketenangan justru menimbulkan kecemasan. Mereka berpikir: “Ketika semua baik-baik saja, apa yang bisa saya lakukan?” “Apakah hidup saya masih bermakna?”
Menurut Psychology Today, ada enam faktor utama mengapa seseorang bisa merasa lebih aman dalam kekacauan.
