Enam Pertanda Orang Terdekat Anda Memikul Kecemasan Orang Lain: Perspektif Psikologi
Nusautama.com – Berdasarkan informasi dari Psychology Today yang dirilis pada Senin, 27 Juli, fenomena psikologis ini kerap disebut sebagai emotional contagion (penularan emosi), empathic distress (distres akibat empati berlebih), maupun secondary stress (stres turunan). Individu yang memiliki kepekaan empati tinggi cenderung secara otomatis menyerap perasaan negatif dari lingkungannya. Akibatnya, kekhawatiran yang sesungguhnya berasal dari orang lain pun terasa seolah-olah menjadi milik pribadi mereka.
Perlu dicatat bahwa keenam indikator berikut bukanlah instrumen diagnosis klinis. Namun, apabila gejala tersebut muncul secara konsisten dan mengganggu rutinitas harian, hal ini bisa menjadi pertanda bahwa seseorang sedang menanggung beban psikologis yang berlebihan.
1. Suasana Hati Berfluktuasi Cepat Pasca Interaksi
Salah satu ciri paling mencolok adalah perubahan mood yang terjadi mendadak setelah berkomunikasi dengan orang lain. Sebagai contoh, sebelum bertemu sahabat, ia terlihat gembira dan penuh semangat. Namun, setelah mendengar curhatan panjang lebar mengenai berbagai masalah, ia tiba-tiba menjadi murung, gelisah, atau kehilangan tenaga.
Menurut penjelasan psikologi, orang dengan empati tinggi cenderung mengalami emotional contagion, yakni mekanisme di mana perasaan orang lain “menular” lewat interaksi sosial. Ia mungkin tidak sadar bahwa perubahannya disebabkan oleh penyerapan emosi orang lain, bukan karena urusan pribadi yang sedang dialaminya.
2. Merasa Wajib Menjadi Penyelamat bagi Semua Orang
Orang yang memikul kecemasan orang lain sering kali merasa dirinya harus berperan sebagai penolong. Mereka kesulitan mengatakan “tidak”, selalu ingin membantu, dan merasa bersalah ketika gagal menyelesaikan persoalan orang lain. Padahal, setiap individu memiliki tanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
Ketika seseorang terus-menerus merasa wajib memperbaiki keadaan orang di sekitarnya, ia akan menghabiskan banyak energi emosional hingga akhirnya mengalami kelelahan mental. Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai over-responsibility, yaitu kecenderungan mengambil alih tanggung jawab yang sebenarnya berada di luar kendali pribadi.
3. Kelelahan Muncul Tanpa Aktivitas Fisik Berlebihan
Kelelahan tidak selalu bersumber dari aktivitas fisik. Beban emosional yang terus-menerus juga mampu menguras cadangan energi seseorang. Mendengarkan konflik keluarga, masalah pekerjaan rekan, atau kesedihan pasangan setiap hari memerlukan proses mental yang tidak ringan.
Dampaknya, seseorang bisa merasa cepat lelah, sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, bahkan merasa “kosong” tanpa tahu penyebab pastinya. Kondisi ini umum dialami oleh mereka yang memiliki tingkat empati tinggi atau bekerja dalam profesi yang menuntut banyak emosi, seperti tenaga kesehatan, konselor, guru, dan pekerja sosial.
4. Pikiran Terus Berputar pada Masalah Orang Lain
Meskipun percakapan sudah berakhir, pikirannya tetap dipenuhi oleh urusan orang lain. Ia membayangkan skenario terburuk, memikirkan solusi berulang kali, dan merasa cemas terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak ia alami secara langsung.
Fenomena ini berkaitan dengan rumination, yaitu kecenderungan memikirkan suatu masalah secara berulang tanpa menghasilkan penyelesaian yang nyata. Semakin sering hal ini terjadi, semakin besar risiko munculnya stres, kecemasan, hingga gangguan tidur.
5. Rasa Bersalah Saat Memprioritaskan Diri Sendiri
Orang yang terlalu menyerap kecemasan orang lain sering menganggap bahwa memprioritaskan kebutuhan sendiri adalah tindakan egois. Ketika ingin beristirahat, ia merasa bersalah. Saat menolak permintaan bantuan, ia takut mengecewakan orang lain.
Psikologi menekankan pentingnya self-care, yaitu merawat kesehatan fisik dan mental agar seseorang tetap mampu menjalani kehidupannya secara sehat. Menjaga diri sendiri bukan berarti mengabaikan orang lain. Sebaliknya, seseorang yang sehat secara emosional justru lebih mampu memberikan dukungan yang baik.
6. Sulit Tenang Ketika Orang Lain Mengalami Kesulitan
Tanda terakhir adalah munculnya kecemasan hanya karena mengetahui orang lain sedang mengalami kesulitan. Ia merasa tidak nyaman jika ada anggota keluarga yang sedang sedih. Ia ikut panik ketika temannya mengalami masalah pekerjaan. Ia bahkan sulit menikmati waktunya sendiri karena pikirannya terus tertuju pada penderitaan orang lain.
Empati memang merupakan kualitas yang positif. Namun jika tidak disertai batasan emosional yang sehat, empati dapat berubah menjadi sumber tekanan psikologis.
Psikolog menyarankan agar seseorang belajar membedakan antara memahami perasaan orang lain dengan menyerap seluruh beban emosional mereka. Dengan menetapkan batasan yang jelas, seseorang dapat tetap menjadi pendengar yang baik tanpa kehilangan keseimbangan batinnya sendiri.
