FUKRI Mengusulkan Evaluasi Pendekatan Militer dalam Momen Sejarah Penyelesaian Konflik Papua
Historic Moment – Dalam sebuah historic moment yang menggema di kalangan masyarakat, Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) mengeluarkan pernyataan bersama untuk mendesak pemerintah merevisi pendekatan militer dalam menyelesaikan konflik Papua. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta Pusat, Kamis (16/7), sebagai respons terhadap terus berulangnya ketegangan di wilayah tersebut. FUKRI, yang beranggotakan delapan organisasi gereja utama nasional, menilai bahwa strategi penggunaan kekuatan militer selama lima puluh tahun terakhir belum berhasil menciptakan kedamaian, justru memperparah trauma dan ketakutan warga sipil.
Peran Gereja dalam Kritik Kebijakan Militer
Aliansi ini mengungkapkan bahwa pendekatan keamanan yang dominan di Papua terus mengakar meski telah berlangsung lebih dari lima dekade sejak integrasi wilayah Cenderawasih dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka menyoroti bagaimana penggunaan pasukan militer secara terus-menerus telah menjadi faktor utama yang menunda proses resolusi konflik. Pernyataan FUKRI dianggap sebagai momen penting dalam sejarah keterlibatan masyarakat sipil, khususnya kalangan religius, dalam membuka dialog dan memberikan perspektif baru terhadap penyelesaian konflik.
Kondisi Wilayah Papua dan Dampak Pernyataan
Krisis kemanusiaan di wilayah seperti Intan Jaya dan sejumlah lokasi konflik lain, yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, menurut FUKRI bukan lagi kejadian biasa. Momen ini dianggap sebagai bukti bahwa pendekatan militer memicu krisis struktural yang berkelanjutan, mengakibatkan rasa tidak aman dan pengungsian massal bagi masyarakat sipil. Dengan historic moment ini, organisasi gereja mengingatkan pemerintah bahwa penyelesaian konflik tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga kebijakan yang berempati dan inklusif.
Pernyataan FUKRI mencakup perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Persekutuan Baptis Indonesia (PBI), Gereja Bala Keselamatan Indonesia (GBK), Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK), serta Gereja Orthodox Indonesia (GOI). Kesepuluh organisasi ini berupaya menegaskan bahwa historic moment ini menjadi titik balik untuk mendorong perubahan kebijakan.
βBerbagai laporan terkini menunjukkan bahwa perempuan, termasuk yang hamil, serta warga sipil menghadapi risiko tinggi dalam situasi konflik dan pengungsian,β ujar Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, Ketua Umum PGI, saat konferensi pers di Jakarta Pusat, Kamis (16/7). Pernyataan ini menekankan bahwa krisis kemanusiaan di Papua menjadi isu utama yang harus diakui dan diperbaiki oleh pemerintah.
Pemimpin FUKRI menambahkan bahwa historic moment ini adalah bukti bahwa pendekatan militer dalam jangka panjang tidak mampu memenuhi harapan masyarakat Papua. Mereka meminta evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas tindakan militer, termasuk dampaknya terhadap hak-hak asasi manusia, ekonomi, dan lingkungan. FUKRI juga mengusulkan penggantian strategi dengan pendekatan non-keras yang melibatkan dialog antar-pihak dan pemberdayaan lokal.
Dalam historic moment ini, FUKRI mengingatkan bahwa keterlibatan masyarakat religius tidak hanya sebagai penyeimbang, tetapi sebagai pilar utama dalam membangun kesepakatan yang adil. Peran gereja dianggap kritis dalam menjembatani kepentingan pemerintah dan masyarakat Papua, terutama dalam mengupayakan resolusi yang mencakup aspirasi etnis, budaya, dan politik. Pernyataan mereka diharapkan dapat menjadi perhatian publik dan pemerintah dalam menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade.
