𝕏 f WA
Surabaya Raya

Unesa Investigasi Dugaan Pelecehan di Grup WA – Korbannya 22 Mahasiswi dan 4 Dosen

Unesa Investigasi Dugaan Pelecehan di Grup WA – Korbannya 22 Mahasiswi dan 4 Dosen

Unesa Investigasi Dugaan Pelecehan di Grup WA, Korban 22 Mahasiswi dan 4 Dosen

Unesa Investigasi Dugaan Pelecehan di Grup – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sedang melakukan investigasi terkait dugaan pelecehan seksual yang terjadi di grup WhatsApp (WA). Kasus ini menimpa 22 mahasiswi dan 4 dosen, dengan enam mahasiswi dari Fakultas Teknologi dan Profesi (FTP) menjadi korban utama. Laporan tentang kelakuan tidak sopan di grup WA tersebut telah memicu perhatian publik dan menimbulkan kecaman terhadap tindakan yang dianggap merendahkan.

Deteksi Dugaan Pelecehan di Grup WA

Kasus pelecehan ini terungkap setelah screenshot percakapan di grup WA yang mengandung ucapan tidak pantas dan penelponan berupa ejekan serta perundungan terhadap mahasiswi dan dosen ditayangkan di media sosial. Akun @UnesaFess di platform X menjadi sumber pertama yang mengunggah bukti-bukti tersebut, memicu perdebatan luas di kalangan masyarakat Surabaya dan masyarakat luas. Dalam percakapan yang terungkap, para pelaku diklaim melakukan tindakan kekerasan verbal dengan menyebarkan pesan yang dianggap melecehkan dan memperlecehkan.

Keterangan dari Ketua Satgas PPK Unesa

Menanggapi laporan tersebut, Ketua Satgas PPK Unesa, Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba, menjelaskan bahwa investigasi sedang berlangsung. “Kasusnya merupakan bentuk kekerasan verbal dalam bentuk chat grup mahasiswa yang bersangkutan, berisi pesan-pesan tidak etis tentang teman-teman mereka dan juga beberapa dosennya,” kata Iman dalam pernyataannya, Minggu (19/7). Dalam proses penyelidikan, pihak universitas tengah memeriksa saksi dan mengumpulkan bukti tambahan untuk memetakan keseluruhan duduk perkara.

Menurut Iman, pelaku keempat mahasiswa dari FTP yang diduga melakukan tindakan tidak sopan terhadap korban. “Kami melakukan investigasi mendalam, memeriksa saksi, dan mengumpulkan bukti tambahan dari riwayat percakapan grup yang panjang itu untuk memetakan duduk perkara ini secara utuh, objektif, dan adil,” terangnya. Dalam waktu dekat, tim investigasi akan mengungkapkan hasil temuan mereka dan menentukan langkah selanjutnya, termasuk penanganan terhadap para pelaku.

Korban dan Dampak Kasus

Dalam laporan yang diberikan, total korban mencapai 26 orang, terdiri dari 22 mahasiswi dan 4 dosen. Para korban mengaku mengalami rasa tidak nyaman dan tertekan akibat pesan-pesan yang diunggah di grup WA tersebut. Beberapa dari mereka menyebutkan bahwa korban tidak hanya menerima ucapan yang melecehkan, tetapi juga mengalami tekanan psikologis yang berdampak pada kinerja akademik dan kepercayaan diri.

Kasus ini menunjukkan bahwa kekerasan verbal di media sosial tidak hanya terjadi di lingkungan kerja, tetapi juga di tengah-tengah lingkungan akademik. Dengan adanya grup WA yang menjadi sarana komunikasi antar mahasiswa dan dosen, tindakan tidak sopan dapat menyebar cepat dan menyebabkan kerusakan yang lebih luas. Satgas PPK Unesa berupaya untuk mengungkap siapa saja yang terlibat dalam kasus ini, baik sebagai pelaku maupun saksi, agar penanganan dapat lebih transparan dan adil.

Langkah-Langkah Penanganan

Untuk memastikan keadilan, Satgas PPK Unesa terus memperluas investigasi dengan menggali informasi lebih dalam dan memeriksa riwayat percakapan grup WA tersebut. “Kami sedang mencari tahu apakah ada pihak lain yang terlibat atau berperan dalam menyebarluaskan pesan-pesan yang tidak etis ini,” jelas Iman. Selain itu, universitas juga berencana untuk melakukan pendekatan kepada korban dan pelaku agar bisa mendapatkan pengakuan serta perspektif lebih jelas tentang kejadian tersebut.

Proses investigasi ini diharapkan tidak hanya mengungkap fakta-fakta tentang dugaan pelecehan, tetapi juga menjadi langkah awal dalam mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang. Dengan adanya kebijakan yang lebih ketat dalam penggunaan media sosial di lingkungan akademik, Unesa berupaya memastikan bahwa setiap individu, baik mahasiswa maupun dosen, dapat merasa aman dan nyaman dalam berinteraksi.

Leave a comment πŸ’¬

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *